Mata Pelajaran Matematika

Kurikulum sekolah di Indonesia mengharuskan seluruh siswanya untuk mempelajari berbagai macam mata pelajaran, termasuk juga salah satunya hitung-hitungan lanjutan. Mata pelajaran hitungan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah matematika. Bagaimana kesan pertama para pelajar mendengar kata ini? Pasti beragam responnya.

Meski sudah menjadi bagian dalam kehidupan, pelajaran yang satu ini jarang sekali disukai oleh murid. Dari sekian banyaknya murid di sekolah, pasti sebagian besarnya tidak suka mata pelajaran matematika. Bahkan, hal ini seperti sudah menjadi “penyakit” turunan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Rupanya ada beberapa faktor yang membuat seorang murid enggan menyukai mata pelajaran ini.

Menurut beberapa penelitian, ada dua faktor yang biasanya membuat murid enggan atau kesulitan belajar matematika, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal biasanya ada kaitannya dengan motivasi diri sendiri. Kemudian, faktor eksternal erat kaitannya dengan lingkungan, seperti dukungan keluarga, pola ajar guru, atau sistem pendidikan itu sendiri. Berikut beberapa penyebab, di antaranya:

  1. Metode ajar guru

Paham atau tidaknya murid terhadap suatu mata pelajaran, bukan melulu soal murid yang memiliki kelemahan pemahaman. Bisa jadi memang metode belajar guru yang cenderung kaku, membosankan, galak, atau cenderung keras. Kalau sudah begini, biasanya murid sudah malas duluan untuk memahami pengajarnya.

Sebaliknya, jika guru memiliki metode ajar yang seru, menyenangkan, lemah lembut, humoris, tidak sekadar mengutamakan hafalan, dan bisa memposisikan diri di pihak murid, biasanya murid pun akan lebih mudah memahami apa yang guru sampaikan. Semua ini tentunya harus dikerjakan dan diwujudkan berdasarkan kerjasama yang baik antara guru dengan murid.

stocksnap.io
  1. Memiliki jawaban pasti

Dalam mata pelajaran matematika, jawaban yang ada adalah jawaban pasti. Artinya, 1+1 sudah pasti sama dengan 2. Hal ini mutlak dalam matematika, Maka dari itu, meski menggunakan penghitungan yang panjang dan benar, namun hasilnya akhirnya salah, tetap saja dianggap salah. Hal inilah yang kerap membuat siswa merasa frustasi terhadap hitungan.

  1. Mengutamakan hafalan dibandingkan mengerti konsep

Inilah yang menjadi salah satu masalah para pelajar di Indonesia dari berbagai jenjang pendidikan. Sejak dini, murid lebih banyak diajarkan untuk menghafal ketimbang memahami konsep. Sementara untuk pelajaran matematika, rumus yang perlu diterapkan sangatlah banyak. Maka, tidak heran jika banyak pelajar yang merasa kebingung ketika harus dihadapkan dengan variasi soal.

  1. Kurang mengasah kemampuan logika

Konsep dasar ilmu matematika adalah logika. Jika murid ada kesulitan dalam memahami matematika, bisa jadi ia kurang memahami logika dasarnya. Untuk itu, asah logika anak-anak sedari dini agar mudah memahami konsep dasar hingga lanjutan dari pelajaran matematika. Kalau sudah begini, anak tidak akan menghafal rumus saja, melainkan juga paham betul konsep ilmunya.

stocksnap.io
  1. Kurang termotivasi untuk paham

Motivasi belajar memang salah satu hal yang cukup sulit untuk dibangun. Apalagi, motivasi setiap pelajar tentu berbeda-beda. Matematika termasuk mata pelajaran yang membutuhkan ketelitian dan logika yang cukup tinggi, maka diperlukan motivasi yang tinggi pula untuk tidak cepat menyerah dalam meguasainya.

Hal ini bisa dipupuk sejak dini dari lingkungan yang paling kecil, yaitu orang tua. Berikan selalu motivasi pada anak pada saat memperoleh nilai tinggi maupun rendah. Sebab, seringkali murid menurun semangat belajarnya ketika sering salah dalam menjawab soal matematika. Terlebih lagi, jika kesalahan seringkali ditanggapi dengan kemarahan orang tua pada anak.

  1. Pengaruh teman

Inilah yang biasanya cukup memberikan pengaruh yang besar terhadap keengganan murid untuk belajar matematika. Misalnya, saat kita memiliki teman yang malas atau kurang memahami pelajaran matematika, maka dia juga bisa jadi akan mempengaruhi kita atau teman sekitarnya bahwa matematika itu sulit. Hal inilah yang bisa menular ke lingkungan sekitar.

stocksnap.io
  1. Lingkungan yang kurang kondusif

Lingkungan yang dimaksud bisa dari keluarga atau lingkungan keseharian tempat belajarnya. Murid yang kurang perhatian dan kasih sayang dari sekitarnya, cenderung sulit belajar matematika. Sebab, untuk mengerjakan soal matematika dibutuhkan kosnetrasi yang penuh. Hal ini tidak bisa dijawab dengan sembarangan.

Ketika ada banyak hal-hal yang bisa mengganggu konsentrasinya sebagai murid, bisa jadi pelajaran akan sulit masuk. Alhasil, murid rentan mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran matematika. Begitu pula dengan lingkungan lainnya, seperti lingkungan sekolahnya, lingkungan pertemanan, dan sebagainya yang sedikit saja tidak kondusif, akan berakibat pada kurangnya konsentrasi dalam belajar.

Itulah beberapa penyebab murid enggan atau sulit belajar matematika. Sebetulnya, tidak ada pelajaran yang sulit. Hanya saja, tingkat kemalasan seseorang lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat keingintahuannya. Matematika sebetulnya bisa jadi lebih mudah jika terus berlatih memahami konsep. Asah terus kemampuan pemahaman konsep matematika dengan belajar gratis di edutore.com.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *