Pernikahan Pada Usia 19 tahun Dapat Menimbulkan Bahaya Hamil DI Usia Muda

Kehamilan merupakan momen yang indah bagi sebagian besar pasangan, terutama bagi Anda para wanita. Namun, bagaimana jika Anda hamil di usia muda? Hamil di usia muda dianggap cukup berbahaya jika Anda masih berusia di bawah 20 tahun. Di Indonesia sendiri banyak sekali kasus pernikahan di bawah umur yang menjadi salah satu penyebab hamil di usia muda.

Idealnya, usia seorang wanita siap mengandung adalah 21-35 tahun. Namun, berdasarkan survei data yang didapat dari BKBN, terdapat hamir 48,5 juta wanita hamil pada usia 10-19 tahun. Meskipun Anda siap hamil di usia 20 tahun. Namun, Anda harus tahu bahwa hamil di usia muda ini memiliki banyak sekali risiko baik bagi Anda maupun janin atau calon bayi Anda.

Minimnya pengetahuan bagi masyarakat menengah bawah, maupun kasus kehamilan di luar pernikahan, membuat angka kehamilan usia remaja di Indonesia menjadi sangat tinggi. Berikut ini risiko bahaya hamil di usia muda

  • Tekanan darah tinggi atau preeklamsia

Menurut ilmu kedoktera, organ reproduksi untuk wanita di bawah umur 20 tahun belum siap untuk berhubungan suami istri atau pun mengandung. Hal ini mengakibatkan terjadinya terjadinya risiko tekanan darah tinggi. Selain tekanan darah tinggi, hamil di usia muda juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami preeklamsia. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kematian pada ibu atau janin.

 

  • Keguguran

Bahaya hamil di usia muda selanjutnya yaitu keguguran. Keguguran pada hamil usia muda dapat terjadi secara tidak sengaja, entah karena terkejut, cemas, hingga stress. Namun, ada juga keguguran yang disengaja dilakukan oleh tenagag non profesional. Keguguran yang disengaja tersebut dikhawatirkan akan menimbulkan efek samping seperti kemandulan.

 

  • Bayi terlahir cacat fisik dan prematur

Kondisi sel telur pada gadis di bawah umur20 tahun belum begitu sempurna. Hal ini dikwatirkan bayi yang dilahirkan mengalami cacat fisik maupun kelahiran prematur. Bahaya hamil di usia muda tersebut diakibatkan oleh kurangnya pengetahuan ibu tentang kehamilan, asupan gizi yang kurang, pengguguran sendiri yang gagal, dan faktor keturunan.